Social Icons

Pages

Minggu, 12 Februari 2012

sahabat penulis al-qur'an


BAB  I
PENDAHULUAN

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan karunia-Nya yang akhirnya tersusunlah makalah “Para Sahabat Penulis Wahyu, Penghafal Al-Qur'an dan Pengajar ( Guru ) Al-Qur'an ini, sholawat dan salam, kita sampaikan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, yang telah menghantarkan umatnya menuju jalan yang lebih baik yang diridhai oleh Allah SWT.
Umat Islam telah diberi pegangan hidup baik di dunia maupun diakhirat yaitu kitab suci Al-Qur'anul Karim. Rasulullah dalam akhir hayatnya, beliau pernah berpesan kepada umatnya : “Wahai umatku, aku tinggalkan dua buah pegangan untuk kaitan sebagai petunjuk untuk kehidupan didunia dan akhirat agar kalian selamat daripadanya yaitu Al-Qur'an dan Al-Hadits.
Batasan Al-Qur'an menurut istilah ( syari’at ) adalah firman / kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadi mukjizat yang sampai kepada kita ( umatnya ) dengan jalan mutawatir yang ditulis dalam mushaf / lembaran yang dipandang beribadah saat membacanya yang dimulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan An-Nash.
Salah satu yang dibanggakan umat Islam dan yang membuktikan bahwa agama Islam adalah agama ilahi yaitu terjaganya keautentikan Al-Qur'an dari dahulu hingga sekarang. Keautentikan Al-Qur'an tersebut dipelihara dengan berbagai cara, antara lain : ditulis dengan lembaran pelepah kurma / batu, dihafalkan dan diajarkan kepada generasi selanjutnya. Selain dilakukan oleh Rasulullah SAW, pemeliharaan Al-Qur'an yang dilakukan oleh para sahabat beliau.
Untuk lebih jelasnya mengenai sahabat-sahabat Rasulullah SAW yang menjadi juru tulis ( penulis ) wahyu, yang menghafalkan Al-Qur'an dan yang menjadi guru / pengajar Al-Qur'an, akan dibahas dalam makalah ini.




BAB II

PEMBAHASAN

A.    Sahabat-Sahabat Penulis Wahyu
Diantara para juru tulis Rasulullah SAW yang terkenal ( termashur )  yaitu :[1]
1.       Abu Bakar Ash-Shidiq ra. Beliau merupakan khalifah pertama dari khulafaur rasyidin setelah Nabi Muhammad SAW wafat.
2.       Umar bin Khottob ra. Beliau merupakan khalifah kedua yang menjadi pelindung yang sangat kuat bagi agama Islam.
3.       Usman bin Affan ra. Beliau adalah khalifah ketiga yang sangat kaya dan beliau membelanjakan hartanya untuk kepentingan agama Islam.
4.       Ali bin Abi Tholib ra.
5.       Amir bin Fuhairoh. Beliau inilah yang menjadi juru tulis surat-surat Nabi SAW yang dikirim kepada raja-raja untuk menyeru mereka kepada Islam.
6.       Ubay bin Ka’ab. Beliau yang mula-mula menjadi juru tulis pertama Nabi dari kalangan Anshor. Beliau ini seorang yang banyak menulis wahyu.
7.       Tsabit bin Qois bin Syammas.
8.       Zaid bin Tsabit.
9.       Muawiyah bin Abi Sufyan.
10.   Yazid saudara Muawiyah.
11.   Al-Mughiroh bin Syu’bah.
12.   Zuber bin Awwam.
13.   Kholid bin Walid.
14.   Al-Ala Al-Hadromi.
15.   Amru bin Ash.
16.   Muhammad bin Maslamah. Dan beberapa orang lainnya.


Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya : adalah Jibril datang kepada Nabi untuk mendengar bacaan Nabi, pada tiap-tiap tahun sekali. Pada tahun beliau wafat, Jibril datang dua kali. As-Suyuti menulis dalam Al-Itqon adalah Zid bin Tsabit seorang penulis wahyu yang utama, menyaksikan pemeriksaan Jibril yang penghabisan dan sesudah pemeriksanaan itu Ziad pun menulis Al-Qur'an dan membacanya dihadapan Nabi. Karena inilah kiranya Abu Bakar memegangi ( berpegangan ) kepada Zaid bin Tsabit dalam urusan mengumpulkan Al-Qur'an dan Usman juga menyuruh Zaid bin Tsabit menulis mushaf-mushaf yang dikirim ke beberapa kota di kala Usman menyuruh menulis mushaf-mushaf itu.[2]
Tulisan-tulisan yang ditulis oleh juru tulis Rasul itu disimpan dirumah Rasul, disamping mereka menulis untuk diri mereka sendiri.
Semua ahli ilmu menetapkan, bahwa susunan ayat Al-Qur'an adalah disusun menurut susunan Rasul semata-mata, bukan sekali-kali menurut kemauan juru tulisnya.
Ketika Rasul masih hidup, Al-Qur'an itu belum dikumpulkan didalam mushaf ( sebuah buku yang terjilid ). Sahabat-sahabat tidak membacanya dibuku, hanya menghafal diluar kepala, seperti Abdullah bin Mas’ud, Salim bin Ma’qil, Muadz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zaid, keempatnya dari golongan Anshor.
Diantara yang menghafal Al-Qur'an pula, Abu Darda dan beberapa sahabat yang lain. Dan diantaranya ada pula sahabat-sahabat yang menghafal separoh Al-Qur'an saja.[3]

B.     Sahabat-Sahabat Yang Hafal Al-Qur'an Sepenuhnya
Ibnu Atsir Al-Jazary dalam kitabnya An-Nasyr berkata : banyak sahabat yang hafal Al-Qur'an dikala masih hidup. Mereka tidak memerlukan tulisan (catatan) karena hafalannya sangat baik. Diantara para sahabat yang hafal Al-Qur'an secara keseluruhan ialah :

v  Dari golongan Muhajirin
1.       Abu Bakar Ash Sehidiq ra.
2.       Umar Ibnul Khattab ra.
3.       Utsman bin Affan ra.
4.       Ali ibn Abi Thalib ra.
5.       Tholhah.
6.       Sa’ad.
7.       Hudzaifah.
8.       Salim.
9.       Abu Hurairah.
10.   Abdullah bin Mas’ud.
11.   Abdullah bin Umar.
12.   Abdullah bin Abbas.
13.   Amru bin Ash.
14.   Abdullah bin Amru bin Ash.
15.   Muawiyah.
16.   Abdullah bin Zuber.
17.   Abdullah As-Sa’ib.
18.   Aisyah Ummul Mu’minin ra.
19.   Hafsah ( juga termasuk juru tulis pada masa itu ).
20.   Ummu Salamah Ummul Mukminin.

v  Dari golongan Anshor
1.      Ubay bin Ka’ab.
2.      Muadz bin Jabal.
3.      Zaid bin Tsabit.
4.      Abu Darda.
5.      Abu Zaid ( Qois bin Sakan bin Qois ).
6.      Majma bin Jariyah ( Haritsah ).
7.      Anas bin Malik.

Selain itu terdapat lagi sahabat-sahabat lain, yaitu :
1.      Ubadah bin Shamit.
2.      Fudholah bin Ubaid.
3.      Maslamah bin Kholid.
4.      Qois Abi Sho’sho’ah.
5.      Tamim Ad-Dari.
6.      Uqbah bin Amir.
7.      Salamah bin Makhlad.
8.      Abu Musa Al-Asy’ari.
As-Suyuti berkata : saya telah mendapati pula seorang wanita shohabiyah yang menghafal seluruh Al-Qur'an yang tidak dimasukkan namanya ke dalam barisan penghafal seluruh Al-Qur'an, yaitu Ummu Waroqoh binti Abdillah bin Al-Harits. Seringkali Rasulullah mengunjunginya dan rasulullah menamainya syahidah. Beliau telah menghafal seluruh Al-Qur'an dizaman Nabi dan beliau dijadikan imam untuk seisi rumahnya. Beliau terbunuh dalam masa pemerintahan Umar. Hampir menjelang Umar wafat, beliau pernah berkata : telah benar apa yang dikatakan Rasul, beliau sering berkata : mari kita pergi ke rumah wanita syahidah.
Kisah lengkapnya dapat dibaca dalam Thabaqat Ibnu Sa’ad. Kata an-Nuwairy dalam syarahnya terhadap kitab-kitab at-Thayibah : “Kalau anda berkata, apabila ditetapkan bahwa yang mengumpulkan Al-Qur'an dimasa Rasulullah SAW sahabat-sahabat yang disebut namanya, maka bagiamana kita kumpulkan keterangan itu dengan perkataan Anas, bahwa yang mengumpulkan Al-Qur'an di masa Rasul ada empat orang. Dalam suatu riwayat yang mengumpulkan Al-Qur'an hanya empat orang yaitu Ubay, Zaid ibn Tsabit, Abu Zaid dan Muazd, pada suatu riwayat Abu Darda, maka saya berkata : “Riwayat pertama tidak berlawanan dengan keterangan ini, karena riwayat pertama itu tidak menentukan penghafal Al-Qur'an hanyak 4 orang saja. Riwayat yang kedua karena tidak dapat diambil lahirnya, berlawanan dengan keterangan yang telah lalu, perlulah ditakwilkan. Maka dimaksudkan dengan hanya 4 orang saja menghafalnya, ialah hanya 4 orang saja yang menghafal dalam seluruh qira’at (macamnya), atau yang menerima langsung dari Rasul, atau yang terus menerus pada setiap turunnya ayat.

C.    Sahabat-Sahabat Yang Menjadi Guru Dalam Mengajarkan Al-Qur'an

Diantara sahabat yang terkenal sebagai guru pengajar Al-Qur'an baik mengajar kepada sesama sahabat maupun kepada murid-murid generasi berikutnya ( tabi’in ). Mereka itu ialah :[4]
1.       Utsman bin Affan ra.
2.       Ali bin Abi Thalib ra.
3.       Ubay bin Ka’ab
4.       Zaid bin Tsabit.
5.       Ibnu Mas’ud
6.       Abu Darda
7.       Abu Musa Al-Aasy’ari
Tujuh shohaby besar inilah yang terkenal sebagai pengajar Al-Qur'an dimasa Nabi maupun sesudahnya.













BAB III

KESIMPULAN


Dengan mengucapkan puji syukur alhamdulillah, maka selesailah penulisan (pembuatan) makalah para sahabat penulis wahyu, penghafal Al-Qur'an dan pengajar ( guru ) Al-Qur'an ini.
Al-Qur’anul karim sebagai kitab suci umat muslim harus kita jaga terus keaslian / keautentikannya sampai akhir hayat kita. Pada zaman Nabi Muhammad SAW telah diberikan berbagai contoh / cara untuk menjaga keaslian Al-Qur'an, yang seyogyanya kita tiru. Kita juga harus mencontoh perbuatan-perbuatan para sahabat. Seperti : Abu Bakar Ash Shidiq, Umar ibn Al-Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Tsabit bin Qais, Amir bin Fuhairah, Amr bin Al-Ash, Zubair bin Al-Awwam, dll yang dengan sungguh-sungguh dengan sepenuh hati untuk menjaga keaslian Al-Qur'an.
Seperti disebutkan dalam firman Allah SWT ( Al-Qur'an ) yang artinya : Kami yang menurunkan Al-Qur'anul Karim dan kami pula yang akan menjaganya. Maka jelaslah bahwa Allah SWT Yang Maha kuasa yang dengan kekuasaan-Nya akan menjaga keaslian Al-Qur'an sampai hari kiamat.

                                            

DAFTAR PUSTAKA


1.      Hasbi Ash-Shiddiqy, Prof, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur'an / Tafsir, Bulan Bintang, Jakarta, 1965, cet. IV.
2.      Said Aqil Husain Al-Munawar, MA, Al-Qur'an “Membangun Tradisi Kesalahan Hakiki”, ( Jakarta, Ciputat Press, 2002 ), cet. 2.
3.      Abd. Mustofa Al-Maraghi, Pakar-Pakar Fiqih Sepanjang Sejarah, Terjm. Husein Muhammad, ( LKPSM, Yogyakarta, 2001 ), Cet. I.
4.      Drs. Sudaryo El-Kamali, MA, Pengantar Ilmu Tafsir, IAIN Walisongo, Fakultas Syari’ah, Pekalongan, 1988.


[1] Hasbi Ash-Shiddiqy, Prof, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur'an / Tafsir, Bulan Bintang, Jakarta, 1965, cet. IV, hlm 64.
[2] Said Aqil Husain Al-Munawar, MA, Al-Qur'an “Membangun Tradisi Kesalahan Hakiki”, ( Jakarta, Ciputat Press, 2002 ), cet. 2, hlm. 15
[3] Hasbi Ash-Shiddiqy, Prof, Op.Cit, hlm. 66.
[4] Abd. Mustofa Al-Maraghi, Pakar-Pakar Fiqih Sepanjang Sejarah, Terjm. Husein Muhammad,          ( LKPSM, Yogyakarta, 2001 ), Cet. I, hlm. 45

para ahli qira'at


 BAB  I

A.  PENDAHULUAN
Tafsir adalah penjelasan tentang arti dan maksud firman-firman Allah SWT yang tercantum dalam Al-Qur'an sesuai dengan kemampuan manusia yang telah memiliki seperangkat syarat-syarat tertentu.[1]
Setiap muslim didorong utnuk memperhatikan ayat-ayat Tuhan, baik yang terbentang dialam raya ini maupun yang tertulis didalam mushaf. Perbedaan hasil pemikiran manusia merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dihindari, perbedaan ini bukan hanya disebabkan oleh perbedaan tingkat kecerdasan atau latar belakang pemikiran dan kecenderungan seseorang, tetapi juga oleh pengaruh peristiwa-peristiwa sejarah serta penemuan-penemuan ilmiah.
Tidak seorang muslim, apapun aliran dan mazhabnya yang tidak merujuk kepada Al-Qur'an untuk memperoleh petunjuk dan legitimasi terhadap pendapat-pendapatnya, Al-Qur'an benar-benar merupakan posisi sentral bagi semua studi keislaman bahkan bagi kehidupan seluruh umat Islam.
Pada masa Rasulullah SAW masih berada di tengah-tengah umatnya, beliau yang antara lain berfungsi sebagai mubayyin ( pemberi penjelasan ) terhadap maksud ayat-ayat Al-Qur'an menjadi nara sumber utama. Beliau menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh umat.
Sepeninggal beliau para sahabat khususnya tokoh-tokohnya melakukan penalaran dalam berbagai bidang, dalam bidang tafsir dikenal antara lain : Ali ibn Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, Ubay Ibnu Ka’ab, Ibnu Abbas dan lain-lain.
Untuk lebih jelasnya mengetahui sejarah ahli tafsir dan qiro’at akan dibahas dalam bab pembahasan berikut ini.





BAB  II

B. PEMBAHASAN

1.      Pengertian Qiro’at dan Para Ahli Qiro’at

Qiro’at berasal dari kata : Qoro’a yang berarti membaca. Menurut istilah : ialah aliran dalam mengucapkan atau membaca Al-Qur'an yang dipegangi oleh para imam yang berbeda satu dengan yang lain.[2]
Aliran qiro’at tersebut, ditetapkan berdasarkan sanad yang sampai kepada Rasulullah SAW. Sebagaimana diketahui, bahwa sahabat Nabi terdiri dari berbagai golongan dan suku yang masing-masing memiliki lahjah ( dialek ) yang berbeda satu dengan yang lain. Nabipun mengizinkan para sahabat membaca Al-Qur'an dengan lahjah masing-masing sehingga menjadilah Al-Qur'an dalam beberapa lahjah.
Disini para ulama berbeda pendapat bahwa berlainan qiro’at karena diterima dari wahyu. Sebagian berpendapat bahwa berlainan qiro’at bukan diterima dari wahyu melainkan karena adanya perbedaan lahjah dan adanya izin dari Nabi membaca berdasar lahjah masing-masing. Pendapat terakhir ini lebih kuat.[3]
Para sahabat yang termashyur ahli qiro’at ialah : Ali, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Ibnu Mas’ud, dan Abu Musa, dari merekalah para sahabat dan tabi’in mengambil qiro’at.
Menurut Adz Dzahahy dalam kitabnya : Thobaqotul Qurro, bahwa yang mashyur ahli qiro’at dikalangan para sahabat ada tujuh orang : Usman, Ali, Ubay, Zaid, Abu Darda, Abu Musa, dan Ibnu Abbas. Dari merekalah para tabi’in belajar qiro’at, sehingga muncullah dikota-kota besar ahli-ahli qiro’at dari kalangan tabi’in.




Di Madinah :
  1. Ibnul Musayyab
  2. Urwah bin Zuber
  3. Salim
  4. Umar bin Abdul Aziz
  5. Sulaiman bin Yasar
Di Mekah :
  1. Ubaid bin Umar
  2. Atho bin Abi Robah
  3. Thowus
  4. Mujahid
  5. Ibnu Abi Mulaikah
Di Kufah :
  1. Al-Qomah
  2. Al-Aswad
  3. Masruq
  4. Ubaidah
  5. Amer bin Syarahbil
Di Basrah
  1. Amir bin Abdul qoim:
  2. Abdul Aliyah
  3. Abu Roja’
  4. Nashar bin Ashim
  5. Yahya bin Ya’mura
Di Syam :
  1. Mughiroh bin Abi Syihab Al-Mahzumy ( murid Usman ).
  2. Khulaid bin Sya’ab teman Abu Darda’
Dimasa tabi’in inilah qiro’at menjadi sempurna dan menjadi ilmu yang erdiri sendiri sebagai ilmu-ilmu yang lain :
  1. Abu Ubaid Al-Qosim Ibnu Sallam, wafat 224 H.
  2. Abu Hatim as-Sijistany, wafat 258 H.
  3. Abu Ja’far Ath-Thobari, wafat 310 H.
  4. Ismail Al-Qodli, wafat 282 H.
Sesudah generasi tabi’in, bangunlah segolongan ulama yang membulatkan tenaganya untuk mempelajari qiro’at sehingga mereka menjadi mahaguru-mahaguru dibidang qiro’at. Yang paling terkenal ialah qori’ tujuh, yang bacaannya terkenal dengan nama qiro’ah sab’ah. Mereka itu ialah :[4]
  1. Ibnu Amir ( Abdullah bin amir Al-Yasaby )
  2. Ibnu Katsir ( Abu Muhammad Abdullah bin Katsir Ad-Dary Al-Makky ).
  3. Ashim Al Kufy ( Ashim Ibnu Abin Nujud Al-Asady )
  4. Abu Amru ( Abu Amru Zabban Ibnul ‘Ala Ibnu Amar Al-Bisri )
  5. Hamzah Al-Kufy ( Hamzah bin Habib bin Imaroh Az-Zayyat Al-Fardhi At-Taimy ).
  6. Imam Nafi’ ( Abu Ruwaim Nafi’ Ibnu Abdur Rohman Ibnu Abi Nuaim Al-Laitsy )
  7. Al-Kisa’I ( Ali bin Hamzah Al-Kisai )

2.   Sejarah Ahli Tafsir dan Qiro’at
1.      Ibnu Jarir Ath-Thobary
Nama lengkapnya : Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thobary. Lahir di Tabrastan tahun 224 H dan meninggal di Baghdad tahun 310 H. beliau seorang yang alim dibidang tarikh, raja ahlu tarsir. Diantara karangan-karangan ialah kitab tafsirnya itu yang menjadi rujukan generasi berikutnya. Beliau adalah seorang mujtahid yang mempunyai madzhab dan pengikut sendiri.
2.      Abu Muslim Al-Asfihany
Nama lengkapnya : Abu Muslim Muhammad bin Bahar. Beliau lahir pada tahun 254 H dan meninggal tahun 322 H. Seorang pembesar di negeri Asfahan, penulis yang ulung mempunyai banyak karangan diantara karangannya ialah : Jamiut Ta’wil terdiri dari 14 jilid. Tafsir ini amat baik susunannya, amat dalam pembahasannya, sehingga banyak dikutip oleh Fahrur Rozy dalam kitabnya.
3.      Al-Wahidy
Nama lengkapnya : Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Matawih, terkenal dengan nama : Al-Wahidy. Meninggal di Nasaibur pada tahun 468 H. Seorang ahli tafsir dan sastra. Kitab tafsirnya ada tiga, yaitu : Al-Basith, Al-Wasith, dan Al-Wajiz.
4.      Abu Hayyan
Nama lengkapnya : Muhammad bin Yusuf bin Ali Hayyan Al-Andalusi An-Nahwy. Lahir di Granada tahun 654 H, menetapkan di Mesir dan meninggal disana tahun 765 H. Ahli dibidang tafsir, hadits, sejarah dan bahasa. Diantara karangannya : Bahrul Muhith.
5.      Al-Qurthubi
Nama lengkapnya : Abu Abdillah Muhammad bin Abibakar bin Faraj Al-Qurthuby. Lahir di Kordova ( Spanyol ) tahun 486 H meninggal di Mausul tahun 567 H. Pengarang tafsir yang sangat terkenal yang banyak dikutip mufasir-mufasir generasi belakangnya. Diantara yang mengambil perkataannya ialah : Abu Bakar Yahya bin Sa’dun bin Tamam bin Muhammad Al-Azdi Al-Qurthubi, seorang yang ahli qiro’at, hadits dan lughoh.
6.      Al-Fahrur Rozy
Nama nama lengkapnya : Abu Abdillah Muhammad bin Umar bin Husen Fahruddin Ar-Rozy, terkenal dengan nama Fahrur Rozy. Lahir di Tabrastan daerah Roy, itulah sebabnya disebut : Ar-Rozy. Beliau terkenal sebagai ahli tafsir yang menguasai ilmu syari’at dan umum. Karangannya amat banyak diantaranya kitab tafsirnya yang terdiri 8 jilid tebal.
7.      Az-Zamahsyari
Nama lengkapnya : Mahmud bin Umar bin Muhammad Al-Khawarimi Az-Zamahsyari. Lahir tahun 467 H meninggal tahun 538 H. seorang ahli agama, tafsir, lughoh dan adab, istimewa bidang kesusasteraan Arab, lahir di Zamahsyari, tinggal di Mekah beberapa lama sehingga dinamai Jarullah. Banyak karangannya, diantaranya kitab tafsir : Al-Khasysyaf, yang menerangkan keindahan susunan bahasa Al-Qur'an. Beliau menganut faham Mu’tazilah dan sangat keras menentang faham tasawuf.
8.      Al-Baidlowi
Nama lengkapnya : Nasir bin Nasiruddin Abu Sa’id Abdullah bin Umar. Meninggal tahun 685 H seorang qodli, ahli tafsir yang luas pengetahuannya. Karangannya yang terkenal adalah Anwarut Tanzil yang terkenal dengan nama tafsir Baidlowi.
9.      Al-Jassos
Nama lengkapnya : Abu Bakar Ahmad bin Ali Al-Jassos. Lahir tahun 305 H di Baghdad, meninggal tahun 370 H. Lahir di Roy dan meninggal di Baghdad. Beliau pengikut madzhab Hanafi. Diantara karangannya adalah : Ahkamul Qur’an. Kitab tafsir yang menitik beratkan pada pembahasa hukum (tafsir ahkam).
10.  Jalalain
Ialah dua orang yang bernama Jalal. Pertama, Jalaluddin Abdur Rohman bin Abi Bakar bin Muhammad As-Suyuthi. Lahir 849 H di Mesir dan meninggal tahun 911 H, seorang yang ahli diberbagai ragam ilmu, karangannya lebih dari 500 buah. Kedua, Jalaludin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ibrohim Al-Mahally. Lahir tahun 781 H meninggal tahun 864 H, seorang ahli ushul dan tafsir. Diantara karangannya ialah Syarah Minhaj dan Syarah Jam’ul Jawami.
Dua oragn Jalal ini mengarang tafsir yang disebut tafsir Jalalain. Bagian pertama dimulai oleh Al-Mahally dan bagian terakhirnya diselesaikan oleh As-Suyuthi.
11.  Syaid Muhammad Rasyid Ridlo
Nama lengkapnya : As-Sayid Muhammad Rasyid Ridlo. Lahir di Kalmun, suatu kampung di Libanon tahun 1282 H meninggal 1354 H kalau mujtahid abad modern ( XX ). Beliau murid Muhammad Abduh, pindah ke Mesir mengikuti gurunya, disana mendirikan Al-Manar sebuah majalah yang terkenal. Tafsir yang dikuliahkan Muhammad Abduh dibukunya dengan nama tafsir Al-Qur’anil Hakim yang terkenal dengan nama tafsir Al-Manar. Sayangnya tafsir itu belum selesai hanya sampai surat Yusuf, karena Muhammad Abduh keburu wafat. Tafsir itu belum ada bandingannya sampai sekarang.


BAB  III


C.  KESIMPULAN

1.      Qiro’at berasal dari kata : Qoro’a yang berarti membaca. Menurut istilah : ialah aliran dalam mengucapkan atau membaca Al-Qur'an yang dipegangi oleh para imam yang berbeda satu dengan yang lain.
  1. Menurut Adz Dzahahy dalam kitabnya : Thobaqotul Qurro, bahwa yang mashyur ahli qiro’at dikalangan para sahabat ada tujuh orang : Usman, Ali, Ubay, Zaid, Abu Darda, Abu Musa, dan Ibnu Abbas. Dari merekalah para tabi’in belajar qiro’at, sehingga muncullah dikota-kota besar ahli-ahli qiro’at dari kalangan tabi’in.
  2. Para Ahli tafsir :
a.       Ibnu Jarir Ath-Thobary
b.      Abu Muslim Al-Asfihany
c.       Al-Wahidy
d.      Abu Hayyan
e.       Al-Qurthubi
f.       Al-Fahrur Rozy
g.      Az-Zamahsyari
h.      Al-Baidlowi
i.        Al-Jassos
j.        Jalalain
k.      Syaid Muhammad Rasyid Ridlo

DAFTAR  PUSTAKA


1.       As-Suyuthi, Al-Itqon Fi Ulumil Qur’an, Darul Fikri, Beirut, 1979, Juz I.
2.       Drs. Sudaryo El-Kamali, MA, Pengantar Ilmu Tafsir, IAIN Walisongo, Fakultas Syari’ah, Pekalongan, 1988.
3.      Manna Al-Qotton, Mabahits fi Ulumil Qur’an, Mansyurot Riyadl, 1973.
4.       Muhammad bin Shaleh Al-Utsmani, Dasar-Dasar Penafsiran Al-Qur'an, Dina Utama, Semarang, 1989.


[1] Yunan Yusuf, Corak Pemikiran Kalam Tafsir Al-Azhar, Jakarta, Panjimas, 1989, hlm. 1.
[2] Manna Al-Qotton, Mabahits fi Ulumil Qur’an, Mansyurot Riyadl, 1973, hlm. 170.
[3] As-Suyuthi, Al-Itqon Fi Ulumil Qur’an, Darul Fikri, Beirut, 1979, Juz I, hlm. 77.
[4] Drs. Sudaryo El-Kamali, MA, Pengantar Ilmu Tafsir, IAIN Walisongo, Fakultas Syari’ah, Pekalongan, 1988, hlm. 30.

makiyyah madaniyah


BAB I

PENDAHULUAN

Umat Islam sepakat bahwa kumpulan wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang disebut Al-Qur'an dan yang termuat dalam mushaf, adalah otentik ( semuanya adalah betul-betul dari Allah SWT ), dan semua wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW dari Allah melalui malaikat Jibril telah termuat dalam Al-Qur'an. Keotentikan Al-Qur'an ini dapat dibuktikan dari                 kehati-hatian para sahabat Nabi memeliharanya sebelum ia dibukukan dan dikumpulkan. Begitu pula kehati-hatian para sahabat dalam membukukan dan memelihara penggandaannya.
Al-Qur'anul Karim memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satu diantaranya adalah bahwa ia merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah, dan ia adalah kitab yang selalu dipelihara.[1]
Demikianlah Allah menjamin keotentikan Al-Qur'an, jaminan yang diberikan atas dasar Kemahakuasaan dan Kemahatahuan-Nya, serta berkat upaya-upaya yang dilakukan oleh makhluk-makhluk-Nya, terutama oleh manusia. Dengan jaminan ayat di atas, setiap Muslim percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya sebagai              Al-Qur'an tidak berbeda sedikit pun dengan apa yang pernah dibaca oleh              Rasulullah SAW, dan yang didengar serta dibaca oleh para sahabat Nabi SAW.[2]
Untuk lebih jelasnya mengetahui Definisi Makkiyah dan Madaniyah akan dibahas dalam bab pembahasan berikut ini.







BAB  II

PEMBAHASAN

DEFINISI MAKKIYAH DAN MADANIYAH

A.    Isi Kandungan Al-Qur'an
Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW kurang lebih selama 23 tahun dalam dua fase, yaitu 13 tahun pada fase sebelum beliau hijrah ke Mekah ( Makiyah ) dan 10 tahun pada fase sesudahnya hijrah ke Madinah              ( Madaniyah ). Isi Al-Qur'an terdiri dari 114 surat, 6236 ayat, 74437 kalimat dan 325345 huruf. Proporsi masing-masing fase tersebut adalah 19/30 ( 80 surat ) untuk ayat-ayat Makiyah dan 11/30 untuk ayat-ayat Madaniyah. [3]
Pokok-pokok isi Al-Qur'an ada lima :
1.      Tauhid, kepercayaan terhadap Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Kemudian, dan Qadla dan Qadar yang baik dan buruk.
2.      Tuntunan ibadah sebagai perbuatan yang menghidupkan jiwa tauhid.
3.      Janji dan ancaman; Al-Qur'an menjajikan pahala bagi orang yang mau menerima dan mengamalkan isi Al-Qur'an dan mengacam mereka yang mengingkarinya dengan siksa.
4.      Hukum yang dihajati pergaulan hidup bermasyarakat, untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.[4]
5.      Inti sejarah orang-orang yang tunduk kepada Allah, yaitu orang-orang yang shaleh seperti Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul. Juga sejarah mereka yang mengingkari agama Allah dan hukum-hukumnya. Maksud sejarah ini ialah sebagai tuntunan dan tauladan bagi orang-orang yang hendak mencari kebahagiaan dan meliputi tuntunan akhlaq.

B.     Definisi Makkiyah dan Madaniyah
Para ulama berbeda pendapat tentang definisi Makkiyah dan Madaniyah. Hal ini karena berbeda titik berat segi pembicarannya. Dalam hal ini ada tiga pendapat :[5]
Pertama, segi waktu.
Makkiyah ialah yang turun sebelum Nabi hijrah meskipun tempat turunnya tidak di Mekah. Madaniyah ialah yang turun sesudah Nabi hijroh meskipun turunnya tidak di Madinah.
Contoh, surat An Nisa ayat 58 :


Turun pada fathu Makah, tahun 8 H, ditengah Ka’bah.
Contoh lain : surat Al-Maidah ayat 3 :


Turun di Arofah waktu haji wada tahun 10 H.
Kedua ayat diatas adalah madaniyah karena turun sesudah Nabi hijroh, meskipun turunnya tidak di Madinah.

Kedua, segi tempat
Makkiyah ialah yang turun di Mekah dan sekitarnya seperti Mina, Arofah, Hudaibiyah, dan lain-lain. Madaniyah ialah yang turun di Madinah dan sekitarnya, seperti Uhud, Badar, Quba, dan lain-lain. Kelemahan pendapat kedua ini ialah ayat yang tidak turun di Mekah maupun Madinah tidak dapat digolongkan Makkiyah atau Madaniyah.
Contoh, surat Al-Fath diturunkan dalam Safar, diluar kota Mekah dan Madinah.
Surat Taubat ayat 42 :
Diturunkan di Tabuk.

Surat Az-Zurkhruf ayat 45 :
Diturunkan di Baitul Maqdis pada malam Isro.
Ketiga, segi khitob.
Makkiyah ialah ayat yang ditujukan kepada orang-orang Mekah. Madaniyah adalah ayat yang ditujukan pada orang-orang Madinah. Tanda khitob yang ditujukan pada orang-orang Mekah ialah : Ya ayyuhan nas. Dan yang ditujukan kepada orang-orang Madinah ialah : Ya ayyuhal ladzina amanu.
Akan tetapi pendapat ketiga inipun masih mengandung kelemahan, karena tidak semua surat / ayat memulai khitobnya dengan dua khito diatas. Misalnya : ada yang memakai khitob : Ya bani adam. ( wahai anak adam ).
Juga tidak semua Madaniyah memulai khitobnya dengan Ya ayyuhal ladzina amanu. Ada tujuh tempat dimana surat Madaniyah memulai khitobnya dengan Ya ayyuhan nas, yaitu :
Al-Baqoroh ayat : 21, 168
An-Nisa ayat : 1, 156, 170, 174
Al-Hujurat ayat : 13

C.    Tanda-tanda Makiyah dan Madaniyah :

Makiyyah, tanda atau cirinya yang khas ialah :
a.       Ayat dan suratnya pendek-pendek dan berirama. Contoh :
b.      Khitob ditujukan kepada seluruh mansuia secara umu, oleh karena itu dipakai kata : Ya ayyuhan nas atau Ya bani adam.
c.       Tiap-tiap surat yang didalamnya ada sajdah. Yaitu ayat yang disunnahkan kita bersujud tilawat bila membacanya. Dalam Al-Qur'an ada 14 tempat, riwayat lain mengatakan ada 16 tempat.
d.      Tiap surat yang didalamnya ada lafadz : “Kalla”. Kata ini disebut Al-Qur'an 33 kali, dalam 15 surat. Semuanya terletak diakhir separo Al-Qur'an.
e.       Tiap surat yang memuat kisah para Nabi dan umat-umat purbakala kecuali surat Al-Baqoroh.
f.       Tiap surat dimana ada kisah Adam dan Iblis adalah Makiyah kecuali surat Al-Baqoroh.
g.      Tiap surat yang dibuka dengan huruf-huruf tahajji seperti : Alif lam mim dan sebagainya, kecuali surat Al-Baqoroh dan surat Ali Imron.
Dari segi isi ayat dan surat Makiyah mengandung :
a.       Seruan tauhid, imam kepada Allah SWT, para Rasul, hari bangkit, qiyamat, sorga, neraka dan ayat-ayat kauniyah.
b.      Meletakkan dasar-dasar umum tasyri dan akhlaq mulia yang menjadi asas masyarakat, menyatakan hinanya kaum musyrikin yang menumpahkan darah, makan harta anak yatim, mengubur anak perempuan hidup-hidup dan lain-lain.
c.       Menceritakan umat-umat terdahulu yang hancur sebagai akibat mendustakan para Rasul. Menghibur Nabi sehingga sabar dalam menghadapi siksaan quraisy.

Adapun ciri atau tanda madaniyah ialah :
a.       Ayat dan suratnya panjang-panjang, kurang berirama.
b.      Umumnya khitob ditujukan kepada orang-orang beriman, biasanya memakai seruan : Ya ayyuhal ladzina amanu.
c.       Tiap-tiap surat dimana didalamnya ada faridhoh atau hadd.
d.      Tiap-tiap surat yang menyebut orang munafik, kecuali surat Al-Ankabut.
e.       Tiap surat dimana ada dialog dengan ahli kitab.

Dari segi isi, Madaniyah mengandung :
a.       Menerangkan tentang hukum, seperti muamalat, hudud, keluarga, mawaris, jihad, sosial, perang, hubungan internasional dan lain-lainnya.
b.       Dialog dengan ahli kitab, yahudi dan nasrani dan ajakan kepada mereka untuk masuk Islam. Menerangkan perangai mereka yang merubah isi kitab, menolak kebenaran, timbulnya perselisihan setelah datang kebenaran, dan lain-lain.
c.       Membuka kedok orang munafik, tipu daya mereka, dan bahayanya terhadap agama.



Adapun faedah mengetahui makiyah dan madaniyah ialah :
1.      Membantu dalam menafsirkan Al-Qur'an
2.      Mengetahui tempat dan masa turun Al-Qur'an
3.      Dapat membantu pemahaman atas sesuatu ayat dan menafsirkan dengan tafsir yang sahih.[6]
4.      Mufassir dalam hal dua ayat yang bertentangan dapat membedakan mana yang nasikh dan mana yang mansukh, karena yang terakhir adalah nasikh bagi yang terdahulu.






















BAB  III
KESIMPULAN

Al-Qur'an merupakan wahyu yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai sumber dari segala sumber hukum yang sudah dibuatkan bukti keotentikannya.
Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW kurang lebih selama 23 tahun dalam dua fase, yaitu 13 tahun pada fase sebelum beliau hijrah ke Mekah                 ( Makiyah ) dan 10 tahun pada fase sesudahnya hijrah ke Madinah ( Madaniyah ).            Isi Al-Qur'an terdiri dari 114 surat, 6236 ayat, 74437 kalimat dan 325345 huruf. Proporsi masing-masing fase tersebut adalah 19/30 ( 80 surat ) untuk ayat-ayat Makiyah dan 11/30 untuk ayat-ayat Madaniyah.
Demikianlah pemaparan makalah kami semoga apa yang kami buat ini dapat menambah pengetahuan kita. Tak lupa kami mohon maaf apabila ada kekurangan dan kesalahan. Terima kasih.
















DAFTAR  PUSTAKA

Ø  Syarifudin, Dr. H. Amir, Ushul Fiqh I, cet. 1, Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1997.
Ø  Riva’i, Drs. Moh., Ushul Fiqh, cet. 3, Bandung : PT. Amalia, 1985.
Ø  Shihab, Drs. M. Quraish, Membumikan Al-Qur'an, cet. 4, Bandung : Mizan, 1993.
Ø  Drs. Sudaryo El-Kamali, MA, Pengantar Ilmu Tafsir, IAIN Walisongo, Fakultas Syari’ah, Pekalongan, 1988.
Ø  Zahdi, Masjdsuk, Pengantar Ulumul Qur’an, Surabaya : Bina Risyadi Mahkota Ma’arif, 1981.
Ø  Karim, Drs. H. A. Syafi’i, Fiqh Ushul Fiqh, Jakarta : Pustaka Setia, 2000.




[1] Shihab, Drs. M. Quraish, Membumikan Al-Qur'an, cet. 4, Bandung : Mizan, 1993.
[2] Zahdi, Masjdsuk, Pengantar Ulumul Qur’an, Surabaya : Bina Risyadi Mahkota Ma’arif, 1981.
[3] Syarifudin, Dr. H. Amir, Ushul Fiqh I, cet. 1, Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1997.
[4] Riva’i, Drs. Moh., Ushul Fiqh, cet. 3, Bandung : PT. Amalia, 1985.
[5] Drs. Sudaryo El-Kamali, MA, Pengantar Ilmu Tafsir, IAIN Walisongo, Fakultas Syari’ah, Pekalongan, 1988.
[6] Karim, Drs. H. A. Syafi’i, Fiqh Ushul Fiqh, Jakarta : Pustaka Setia, 2000.

Blogger templates

 

Sample text

Sample Text

Sample Text